“Rinaa!! Bangun nak!”
terdengar suara seseorang membangunkanku dari tidur nyenyakku. “iya mah Rina
bangun nih.” Ujarku saat tersadar bahwa suara itu adalah suara ibuku. “Kamu tuh
ya bangun jam segini! Untung hari minggu. Kamu tau sekarang jam berapa?jam 11
siang Rina!” omel ibuku. “Iya mah maafin Rina,tadi malem Rina menonton film
sampai jam 12 malem.” “Yasudah,cepat cuci muka dan sikat gigi lalu makan siang
bersama mama,mama sudah memasakkan makanan kesukaanmu tuh.” Mendengar kata
‘makanan kesukaanmu’ itu aku langsung turun dari tempat tidur dan beranjak
menuju kamar mandi.
Oh ya,aku belum
memperkenalkan diriku. Nama ku Rina Carmalia Nur Halimah,panjang bukan?tapi
kalian boleh memanggilku dengan Rina. Umurku 15 tahun,aku bersekolah di SMP
elite di Jakarta dan tepatnya kelas IX-2. Aku mempunyai banyak teman dan
sahabat,salah satunya adalah Lina dan Rani. Mereka adalah sahabatku dari
kecil,rumah kamipun sebelahan,senang bukan?kami bisa berpergian bersama
kapanpun,belajar bersama dan menginap bersama.
“Rina,hari
ini aku akan pergi ke dufan,kamu mau ikut ga?aku udah ngajak Lina kok dan dia
mau. How about you,friend?” begitulah sms yang masuk ke handphoneku.
Membaca
hal itu,akupun langsung memberti tahu papa dan mama ku. Dan mereka setuju! Aku
langsung mengabari Rani dan Lina. Besok kami akan pergi ke Dufan! Yeaayy!!!
*Esoknya*
“Rina,semua
barangnya sudah dibawakan?Handphone?dompet?power
bank?baju ganti dan lainnya?” Tanya ibu. “Iya sudah semua mah,aku berangkat
dulu ya. Rani dan Lina sudah menunggu didepan.” Jawabku. Akupun berpamitan
untuk pergi,namun aku tak melihat papahku,entah kemana sejak tadi pagi sudah
tak ada.
Diperjalanan
kami sangat senang,kami bercanda ria. Oh iya,kami pergi ke Dufan diantar oleh
papah Lina yaitu Om Adi. Tapi Om Adi hanya mengantar saja,tidak ikut bermain
dan mengawasi kami. Katanya kami sudah besar tidak perlu dilindungi lagi haha!
Ada-ada saja alasannya.
Kamipun
akhirnya sampai di Dufan,kami berpamitan pada papanya Lina atau Om Adi.
Langsung saja kami berlari untuk masuk dan membeli ticket nya. Hoaah! Ini
adalah hari yang sangat menyenangkan!
Kami
bermain sepuasnya,sampai akhirnya kami berpisah,karena Lina dan Rani tidak
berani bermain histeria (salah satu
wahana di Dufan) aku pergi sendirian dan kami janjian untuk bertemu di wahana Tornado.
Sesudah
bermain histeria,aku menunggu Lina dan Rani di wahana Tornado ini. Mereka tidak
kunjung datang. Aku sudah menunggu selama 45 menit! Tapi mereka tidak datang
juga! Aku sudah mulai berpikiran yang tidak-tidak. Apakah mereka diculik?atau
bagaimana?tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang! Aku menjerit dan akhirnya
tidak sadarkan diri.
Aku
terbangun dan ternyata disampingku sudah ada Lina dan Rani,mereka juga sama
sepertiku diikat dan dibekan di kursi masing-masing. Aku tidak mengerti apa
yang terjadi,apakah ini mimpi atau kenyataan? Pikiranku kacau,sampai akhirnya
‘penculik’ itu datang.
“Heh
anak muda!! Cepat berikan semua barang berharga kalian! Dan beri kami nomor
telepon orang tua kalian! Cepat!!”
bentak salah satu dari mereka,namun kami menggelengkan kepala bertanda tidak
mau.
“Cepat!!!
Atau kalian mau mati? Haha!?” ucap pria satu lagi dengan membawa senapan di
tangannya. Aku mulai tegang,begitu melihat wajah Lina dan Rani,mereka sama
sepertiku,tegang. Aku tetap bersikeras menggelengkan kepala,sementara Lina dan
Rani hanya bisa terdiam.
“Dasar
kalian ini bodoh!!! Cepat berikan nomor telepon orang tua kalian!!!” bentak
pria yang membawa senapan dan pria itu menghampiri ku dan memukulku keras. Aku
tetap bersikeras tidak memberikan keinginannya,pria itu menjadikan aku target
pertama untuk di bunuhnya,dia menodongkan senapannya ke kepalaku dan....
Aku
pikir aku sudah mati,disini banyak sekali suara orang berbicara,penglihatanku
buram,putih..semuanya putih lalu tiba-tiba aku mendengar suara seseoarang.
“Rina,kamu
tak apa nak?rina?” tanya seseorang disana,aku mengenali suaranya tapi
siapa?kepalaku sangat sakit. Aku hampir tidak bisa mengenali apapun sampai
akhirnya aku benar-benar sadar.
“Ma...mama?”
tanyaku pada orang itu.
“Iya
nak! Ini mama,kamu tak apa?”
“Apa
yang terjadi ma?kenapa aku disini?ini dimana?”
“Kamu
diculik,lalu salah satu dari penculik itu ingin membunuhmu,untungnya papa
mengikuti mu karena papa khawatir,makanya papa tidak ada dirumah sejak
pagi,karena papa menunggu kedatanganmu di Dufan.” Ujar Papa menjelaskan
semuanya.
Aku kapok. Aku tidak akan pergi sendiri tanpa orang
dewasa untuk menemani,begitu juga dengan Lina dan Rani,mereka sama sepertiku.
Untung papa mengikuti kami,kalau tidak?mungkin kami sudah dibunuh oleh penculik
itu. I Love You Dad! You’re my Hero!