Rabu, 18 Februari 2015

My Father,My Hero



“Rinaa!! Bangun nak!” terdengar suara seseorang membangunkanku dari tidur nyenyakku. “iya mah Rina bangun nih.” Ujarku saat tersadar bahwa suara itu adalah suara ibuku. “Kamu tuh ya bangun jam segini! Untung hari minggu. Kamu tau sekarang jam berapa?jam 11 siang Rina!” omel ibuku. “Iya mah maafin Rina,tadi malem Rina menonton film sampai jam 12 malem.” “Yasudah,cepat cuci muka dan sikat gigi lalu makan siang bersama mama,mama sudah memasakkan makanan kesukaanmu tuh.” Mendengar kata ‘makanan kesukaanmu’ itu aku langsung turun dari tempat tidur dan beranjak menuju kamar mandi.
Oh ya,aku belum memperkenalkan diriku. Nama ku Rina Carmalia Nur Halimah,panjang bukan?tapi kalian boleh memanggilku dengan Rina. Umurku 15 tahun,aku bersekolah di SMP elite di Jakarta dan tepatnya kelas IX-2. Aku mempunyai banyak teman dan sahabat,salah satunya adalah Lina dan Rani. Mereka adalah sahabatku dari kecil,rumah kamipun sebelahan,senang bukan?kami bisa berpergian bersama kapanpun,belajar bersama dan menginap bersama.
“Rina,hari ini aku akan pergi ke dufan,kamu mau ikut ga?aku udah ngajak Lina kok dan dia mau. How about you,friend?” begitulah sms yang masuk ke handphoneku.
            Membaca hal itu,akupun langsung memberti tahu papa dan mama ku. Dan mereka setuju! Aku langsung mengabari Rani dan Lina. Besok kami akan pergi ke Dufan! Yeaayy!!!
*Esoknya*
            “Rina,semua barangnya sudah dibawakan?Handphone?dompet?power bank?baju ganti dan lainnya?” Tanya ibu. “Iya sudah semua mah,aku berangkat dulu ya. Rani dan Lina sudah menunggu didepan.” Jawabku. Akupun berpamitan untuk pergi,namun aku tak melihat papahku,entah kemana sejak tadi pagi sudah tak ada.
            Diperjalanan kami sangat senang,kami bercanda ria. Oh iya,kami pergi ke Dufan diantar oleh papah Lina yaitu Om Adi. Tapi Om Adi hanya mengantar saja,tidak ikut bermain dan mengawasi kami. Katanya kami sudah besar tidak perlu dilindungi lagi haha! Ada-ada saja alasannya.
            Kamipun akhirnya sampai di Dufan,kami berpamitan pada papanya Lina atau Om Adi. Langsung saja kami berlari untuk masuk dan membeli ticket nya. Hoaah! Ini adalah hari yang sangat menyenangkan!
            Kami bermain sepuasnya,sampai akhirnya kami berpisah,karena Lina dan Rani tidak berani bermain histeria (salah satu wahana di Dufan) aku pergi sendirian dan kami janjian untuk bertemu di  wahana Tornado.
            Sesudah bermain histeria,aku menunggu Lina dan Rani di wahana Tornado ini. Mereka tidak kunjung datang. Aku sudah menunggu selama 45 menit! Tapi mereka tidak datang juga! Aku sudah mulai berpikiran yang tidak-tidak. Apakah mereka diculik?atau bagaimana?tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang! Aku menjerit dan akhirnya tidak sadarkan diri.
            Aku terbangun dan ternyata disampingku sudah ada Lina dan Rani,mereka juga sama sepertiku diikat dan dibekan di kursi masing-masing. Aku tidak mengerti apa yang terjadi,apakah ini mimpi atau kenyataan? Pikiranku kacau,sampai akhirnya ‘penculik’ itu datang.
            “Heh anak muda!! Cepat berikan semua barang berharga kalian! Dan beri kami nomor telepon orang tua kalian!  Cepat!!” bentak salah satu dari mereka,namun kami menggelengkan kepala bertanda tidak mau.
            “Cepat!!! Atau kalian mau mati? Haha!?” ucap pria satu lagi dengan membawa senapan di tangannya. Aku mulai tegang,begitu melihat wajah Lina dan Rani,mereka sama sepertiku,tegang. Aku tetap bersikeras menggelengkan kepala,sementara Lina dan Rani hanya bisa terdiam.
            “Dasar kalian ini bodoh!!! Cepat berikan nomor telepon orang tua kalian!!!” bentak pria yang membawa senapan dan pria itu menghampiri ku dan memukulku keras. Aku tetap bersikeras tidak memberikan keinginannya,pria itu menjadikan aku target pertama untuk di bunuhnya,dia menodongkan senapannya ke kepalaku dan....
            Aku pikir aku sudah mati,disini banyak sekali suara orang berbicara,penglihatanku buram,putih..semuanya putih lalu tiba-tiba aku mendengar suara seseoarang.
            “Rina,kamu tak apa nak?rina?” tanya seseorang disana,aku mengenali suaranya tapi siapa?kepalaku sangat sakit. Aku hampir tidak bisa mengenali apapun sampai akhirnya aku benar-benar sadar.
            “Ma...mama?” tanyaku pada orang itu.
            “Iya nak! Ini mama,kamu tak apa?”
            “Apa yang terjadi ma?kenapa aku disini?ini dimana?”
            “Kamu diculik,lalu salah satu dari penculik itu ingin membunuhmu,untungnya papa mengikuti mu karena papa khawatir,makanya papa tidak ada dirumah sejak pagi,karena papa menunggu kedatanganmu di Dufan.” Ujar Papa menjelaskan semuanya.
            Aku kapok. Aku tidak akan pergi sendiri tanpa orang dewasa untuk menemani,begitu juga dengan Lina dan Rani,mereka sama sepertiku. Untung papa mengikuti kami,kalau tidak?mungkin kami sudah dibunuh oleh penculik itu. I Love You Dad! You’re my Hero!